“Jeut Bacut-bacut”

Membludaknya orang asing ke Banda Aceh, membuat Usman tergelitik untuk sedikit-sedikit ngomong bahasa inggeris. Sebaliknya, bule pun juga ikut-ikut belajar bahasa Indonesia. Kalau tidak, bahasa tarzan yang berkumandang.

“Ya, pentinglah kalau sekarang ini bahasa inggeris, kan banyak bule. Tapi kalau saya sudah tua gak bisa belajar lagi, paling satu dua saja yang saya ngerti lihat dari film,” ujar Usman.

Dia seorang pengemudi becak motor. Sehari-hari mangkal di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dia punya pengalaman tak sedap, saat mengantar seorang bule yang ingin ke Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut. Kapal ini terdampar dibawa tsunami.

“Saya bingung, si bule pun binggung tanya berapa ongkosnya, akhirnya saya tanya kepada seorang anak mahasiswa yang sedang menunggu labi-labi, kalau sepuluh ribu bahasa inggerisnya bagaimana?, “ cerita Usman.

“Sambil menunjukkan sepuluh jari, saya bilang, cuma ten tousen, sir,” kenang Usman sambil tertawa. Keterbukaan Aceh terhadap kehidupan global, memang membawa cerita tersendiri bagi warga seperti Usman.

Tentu saja termasuk, Rahmat yang biasa mangkal di Peunayong. Untuk mencari penumpang bule, dia kerap over acting. “Wer du yu gon ngoen?,” sapanya sambil terkekeh, karena mencampur aduk bahasa. Ngoen sendiri adalah kosa kata Aceh yang berarti teman.

Lain lagi cerita seorang staf Departemen Luar Negeri dari Jakarta yang baru lima hari bertugas di Aceh memfasilitasi pemantau asing yang memonitor Pilkada. Ketika bertemu dengan seorang jurnalis asing dia bertanya, ”Sudah bisa bahasa Indonesia?.”

Jeut bacut-bacut,” jawab si jurnalis sekenanya tanpa beban. Mendengar jawaban itu, giliran staf Deplu bingung. Jeut bacut-bacut itu bahasa Aceh yang artinya sudah bisa sedikit.

Alah mak, ditanya bahasa Indonesia, malah dijawab bahasa Aceh,” bisiknya kepada Ceureumén sembari terkekeh. Bisa bahasa Indonesia; jeut bacut-bacut

Tinggalkan Balasan